Sistem Daur Ulang Air untuk Rumah Tinggal
Green architecure atau arsitektur ramah lingkungan adalah salah satu issue yang ramai diperbincangkan di kalangan praktisi bangunan, baik arsitek maupun kontraktor. Berbagai macam cara dimanfaatkan agar setidaknya bangunan yang kita dirikan dapat memberikan kontribusi bagi pelestarian lingkungan. Hal ini antara lain didapat dengan pembuatan taman, taman vertikal (vertical garden), taman atap (roof garden), pembuatan sumur resapan, pembuatan biopori, penggunaan material ramah lingkungan, dan sebagainya.
Salah satu hal yang harus kami terapkan di proyek rumah tinggal di Perumahan Tanjung Mas Raya, Tanjung Barat adalah dengan membuat sistem pengolahan air limbah rumah tangga. Arsitek rumah ini, ibu Early Andhika Ratu, bekerja sama dengan konsultan Mekanikal Elektrikal, bapak Diman Wahyudin, telah merancang satu skema pengolahan air limbah. Dalam sistem ini, air sisa mandi dan mencuci akan didaur ulang dan dimanfaatkan kembali untuk penyiraman tanaman, cuci kendaraan, dan flushing toilet.
Sistem ini diawali dengan adanya sebuah bak penampungan air limbah yang diletakkan di basement rumah ini. Bak ini menampung air sisa mandi dan cucian rumah tangga. Pada bak penampungan ini, dimasukkan pula satu jenis bakteri aerob yang akan bekerja untuk menguraikan sabun dan sisa lemak yang ada di air kotor. Agar bakteri aerob ini dapat bekerja optimal, kami memberikan supply udara secara teratur dengan menggunakan pompa blower atau pompa aerasi. Dan agar sirkulasi udara dapat merata, pada ujung-ujung pipa supply udara kami berikan membrane kapiler. Dengan demikian udara dapat tersebar merata dan dalam ukuran gelembung (bubble) yang kecil. Pompa aerasi yang kami gunakan adalah pompa kecil yang biasa digunakan utnuk aquarium ikan hias. Kami menggunakan pompa type membrane, karena tidak berisik dan relatif tahan lama dibandingkan pompa rotary.
Dari bak penampung awal ini, air kemudian dialirkan ke bak pengendapan (setlement tank). Agar pengendapan dapat berlangsung sempurna, kami tambahkan potongan-potongan atap fiber yang membuat aliran air menjadi lebih panjang dan pelan. Dengan demikian memberi kesempatan kotoran untuk mengendap. Endapan di bak ini kemudian bisa dimanfaatkan kembali sebagai pupuk tanaman.
Dari bak pengendapan, air dialirkan menuju bak filtrasi. Pada bak filtrasi ini dilakukan penyaringan kembali dengan menggunakan karbon aktif dan pasir kuarsa. karbon aktif dan pasir kuarsa ini akan mengikat bau dan beberapa partikel aktif lainnya. Air yang keluar dari bak filtrasi ini adalah air yang baku mutunya sudah cukup baik dan bisa digunakan sebagai air rumah tangga biasa. Namun pemilik rumah hanya memanfaatkannya untuk penyiraman tanaman, cuci kendaraan, dan flushing toilet saja. Dari bak filtrasi ini, air dikumpulkan di sebuah ground tank untuk kemudian didistribusikan ke tempat-tempat yang membutuhkan.
Sebenarnya, di pasaran sudah tersedia produk pengolahan air limbah rumah tangga yang siap pakai. Namun pemilik dan arsitek rumah ini berkeinginan untuk membuat sendiri sistem pengolahan air limbah. Dan ini patut diapresiasi.
Tips lain yang berhubungan dengan desain arsitektur dan interior ada di sini.
Tags: arsitektur, green architecture, hemat energi
2 Comments »
Leave a comment!













good job, i like it
jawab:
tengkiu Jay, ayo kapan-kapan maen…